【Menghadapi pandemi Covid-19】Belajar online dan belajar melalui TV untuk mengatasi kesenjangan Pendidikan Indonesia.

Menghadapi pandemi Covid-19, sekolah di Indonesia sama seperti di Jepang meliburkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah dan menggantinya dengan belajar online. Namun ada perbedaan dibandingkan dengan Jepang, Indonesia juga mengambil langkah dengan meluncurkan program bertajuk ‘Belajar dari rumah’ untuk mengatasi siswa dan anak-anak di daerah yang tidak bisa belajar online karena tidak adanya akses Internet.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) meluncurkan program ‘Belajar dari rumah’ di salah satu stasiun TV dan menyiarkannya ke seluruh wilayah Indonesia, langkah ini diambil supaya tidak terjadi kesenjangan antar wilayah dan mengatasi kesenjangan level pendidikan.

Kali ini kami akan menyampaikan secara detail garis besar upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) dalam memastikan berjalannya program ‘Belajar dari rumah’ untuk semua murid dan anak dari semua jenjang selama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di sekolah ditiadakan karena pandemi Covid-19, yang juga merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menanggulangi penyebaran Covid-19. Kami akan menjelaskan upaya pemerintah Indonesia dalam mengambil tindakan terhadap anak-anak dan siswa yang sedang libur sekolah selama pandemi Covid-19.

Selain itu ada juga artikel wawancara mengenai dukungan Belajar di Jepang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) sebagai berikut :
→ Wawancara dengan Dr.Santi Direktur Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan,Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud)【Dukungan Belajar di Jepang】
→ Wawancara ke-2 dengan Bapak Pratama dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud)【Belajar di Jepang akan meningkat】
→ Wawancara ke-3 dengan Pak Budi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud)【Pertanyaan siswa yang ingin Belajar di Jepang】
→ Wawancara ke-4 dengan Pak Budi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud)【Belajar di Jepang akan meningkat】
→ Wawancara ke-5 dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) mengenai Belajar di Jepang【Pak Andi, Biro Sumber Daya Manusia (SDM) 】

Situasi Pendidikan Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau (besar dan kecil) dengan panjang 15.110km timur-barat dan lebar 1.888km selatan-utara. Ada sekitar 50 juta anak sekolah di TK, SD, SMP, SMA sederajat, sekitar 7,5 juta siswa sekolah di lembaga pendidikan tinggi seperti universitas. Sekitar 30 kali jumlah siswa dan anak di Jepang sekitar 1,8 juta jiwa.

【Tabel perbandingan jumlah siswa dan guru di Indonesia dan Jepang】


Klasifikasi Indonesia Jepang
Jumla siswa TK, SD, SMP, SMA sederajat 50,034,518 1,365,453
Jumlah mahasiswa (PT dan Universitas) 7,500,000 572,378
Jumlah guru TK, SD, SMP, SMA sederajat 3,027,422 1,168,718

[Sumber:IKHTISAR DATA PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN 2017/2018 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud), Manual Statistik Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi(versi tahun 2018)]

Di Indonesia, di mana Infrastruktur Digital Nasional sedang berkembang, jalur optik sedang dipasang di kota-kota besar seperti di ibu kota Jakarta, tetapi di daerah dan wilayah yang jauh dari pusat kota, masih ada banyak tempat yang mana BTS (Base Transceiver Station) telepon selular (ponsel) nya saja masih kurang memadai.

Masih ada daerah di mana karena tidak ada sinyal, harus membawa smartphone sampai ke puncak bukit perjalanan sekitar 20 menit hingga akhirnya dapat sinyal, dan ada desa yang tidak memiliki alat digital seperti smartphone dan PC karena keterbatasan ekonomi. kemudian masih ada juga daerah di mana akses sekolah masih sulit, untuk berangkat ke sekolah SD saja memakan waktu lebih dari 1 jam, di daerah seperti ini alih-laih siswa datang ke sekolah justru guru yang mengunjungi rumah siswa dan melakukan bimbingan, belajar mengajar di rumah siswa.

Di daerah terpencil yang kondisi pendidikannya tidak memadai, jangankan internet di sana masih banyak keluarga yang membeli alat digital saja tidak mampu. Dari sebelum pandemi Covid-19 meluas, di Indonesia kesenjangan ekonomi dan budaya antara daerah perkotaan dan non perkotaan telah menjadi masalah, terutama kesenjangan dalam pendidikan telah dianggap sebagai masalah yang serius.

Pendekatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) terhadap Covid-19

Akibat dampak pandemi Covid-19 baru-baru ini, terutama karena ada rasa terancam bahaya pendidikan sekolah tidak bisa dilanjutkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) mulai mengambil berbagai inisiatif untuk Belajar dari rumah. Pada akhir Maret 2020 diputuskan untuk bekerja sama dengan UNESCO untuk menyediakan metode Belajar dari rumah dan ilmu pengetahuan sambil memantau kondisi Belajar dari rumah.

Sebagai bagian dari prakarsa pencegahan penyebaran Covid-19, demi melindungi kesehatan anak-anak dan siswa, kesehatan dan kesejahteraan para guru dan orang tua, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) telah melarang semua sekolah melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah sejak tanggal 3 April 2020, dari TK, SD, SMP, SMA sederajat sampai Lembaga Pendidikan Tinggi dan mengumumkan untuk Belajar dari rumah. Hal ini merupakan “paksaan” berbeda dengan sistem di Jepang.

Kemudian, pada saat yang sama, selain meluncurkan program ‘Belajar dari rumah’ juga memulai berbagai program untuk Belajar dari rumah. Lembaga pendidikan tinggi, masing-masing sekolah memiliki tingkat digitalisasi yang jauh berbeda sehingga langkah-langkah seragam tidak diambil, sebisa mungkin melanjutkan belajar dengan alat digital tanpa harus pergi ke sekolah. Kemudian stasiun TV mulai menyangkan program baru bertajuk ‘Belajar dari rumah’ khsusunya untuk daerah yang tidak memiliki akses internet

Kebijakan ekonomi dan bantuan dana pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud)

Di samping itu di sisi finansial pemerintah Indonesia juga melakukan penanganan secara konkrit seperti berikut ini. Diantaranya sebagai penanganan terhadap Covid-19 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) telah menetapkan anggaran di tahap akhir bulan maret yaitu : 60 miliar rupiah sebagai biaya penanganan Covid-19 untuk orang tua dan wali murid, 250 miliar rupiah untuk perluasan rumah sakit universitas, 90 miliar rupiah untuk tes PCR, Total anggaran sebesar 405 miliar rupiah (sekitar ¥ 30,4 miliar).

Selain itu, ‘biaya manajemen peralatan’ untuk TK, SD, SMP, SMA sederajat yang sudah ditetapkan akan segera dibagi ke masing-masing sekolah, dan dana itu akan digunakan untuk membantu pembelian alat-alat digital, biaya data internet, dan biaya Belajar dari rumah untuk anak-anak dan siswa sesuai dengan kondisi sekolah.

Upaya konkret Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) untuk menangani Covid-19

1. Penayangan acara program bertajuk ‘Belajar dari rumah’ melalui TV

Menyiarkan acara program belajar melalui TV, bekerja sama dengan TVRI, stasiun televisi nasional Indonesia sejak tanggal 9 april 2020. Menata ulang struktur program yang biasanya menyiarkan berita, menjadi siaran ‘Program Pendidikan SD, SMP, SMA/sederajat’ yang disiarkan ke seluruh wilayah Indonesia.

‘Program Pendidikan SD, SMP, SMA sederajat’ ini direncanakan akan berjalan selama tiga bulan hingga Juli 2020, namun di video conference yang diadakan tgl 16 Juni 2020 telah ditetapkan siaran program diperpanjang sampai kelas tatap muka di semua sekolah dimulai.

Penetrasi internet Indonesia rata-rata nasional sekitar 40%, sangat rendah jika dibandingkan dengan Jepang yang penetrasi Internetnya lebih dari 90%, hal ini bukanlah kondisi dimana semua rakyat Indonesia bisa belajar secara online.

Tetapi Penetrasi TV Indonesia 85% dibanding Jepang 96.7%, ini kondisi dimana hampir semua rumah memiliki pesawat TV. Ngomong-ngomong Penetrasi ponsel Indonesia mencapai 119.34% hampir mendekati Jepang yang 141.41%. Penetrasi ponsel Indonesia luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, namun seperti yang kami sampaikan di atas, walaupun memiliki ponsel tetapi masih ada siswa yang tinggal di daerah yang tidak terjangkau sinyal internet.

Di situ untuk mendukung Belajar dari rumah anak-anak dan siswa di seluruh wilayah Indonesaia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) memanfaatkan penetrasi TV yang sangat luar biasa dibandingkan dengan penetrasi Internet. Mengenai hal ini akan kami kenalkan secara detail di paragraf berikutnya.

2. Situs belajar online ‘Rumah Belajar’ dibuka

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah meluncurkan situs bernama ‘Rumah Belajar” untuk mendukung anak-anak dan siswa Belajar dari rumah secara Online.

Situs belajar online ini, konten utamanya berupa video, dibagi menjadi empat kategori. yaitu : Kategori “Kelas Maya” berisi Video pelajaran berdasarkan kelas, “Sumber belajar” berisi data yang menjadi dasar pelajaran dan hasil penelitian, “Bank soal” berisi kumpulan soal test, dan kategori “laboratorium maya” berisi video penelitian yang levelnya sedikit tinggi dan video eksperimen. Semua konten ini semuanya gratis dan bisa diunduh.

→Rumah Belajar:https://belajar.kemdikbud.go.id/

3. Aplikasi belajar smartphone gratis

Di Indonesia, di mana tingkat penetrasi ponsel tinggi, aplikasi belajar untuk ponsel telah semakin baik sebagai “Kursus Online ” untuk Belajar dari rumah anak-anak dan siswa sejak beberapa tahun yang lalu. Di situ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) sudah menjalin kerja sama dengan beberapa platform teknologi atau online learning milik swasta yang menyediakan 7 aplikasi belajar untuk smartphone demi mempertahankan belajar anak-anak dan siswa di masa pandemi Covid-19 ini, sejak tanggal 16 maret 2020 aplikasi-aplikasi ini bisa digunakan gratis oleh anak-anak dan siswa seluruh wilayah Indonesia.

7 aplikasi belajar untuk samrtphone yang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) adalah Ruang guru, Zenius, Google suite for education, Microsoft Office 365 for Education, Quipper, Sekolahmu, dan Kelas Pintar. Aplikasi-aplikasi untuk samartphone ini materinya dibedakan berdasarkan masing-masing kelas sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) / sederajat. Mata pelajaran juga lengkap yaitu ada matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, fisika, kimia, geografi, sejarah, dan sosial.

Satu tema mata pelajaran di atas , masing-masing dibuat dengan durasi antara 3-15 menit, Guru dapat mengambil mata pelajaran dan item yang diperlukan dari aplikasi ini dan memperkenalkan ke dalam kelas online, atau siswa dapat belajar di rumah mereka sendiri sambil menonton video dari situs-situs ini. Kemudian ada juga fungsi seperti tidak dapat melanjutkan ke stage berikutnya kecuali sudah menjawab pertanyaan yang ada di tengah video, ada juga fungsi yang bisa menjawab pertanyaan dari siswa dalam aplikasi, dan ada juga tes check dan ujian praktek setelah menontoan di setiap tema.

4. Pembayaran bantuan pulsa internet smartphone

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) membayar uang bantuan pulsa internet smartphone yang timbul saat digunakan dalam program Belajar dari rumah kepada masing-masing siswa.

Nominal uang bantuan berbeda-beda sesuai dengan daerah dan sekolahnya masing-masing. Di Bandung dan wilayah sekitarnya dibayarkan kepada masing-masing siswa sebesar 70 ribu – 100 ribu rupiah (\530-\755) setiap bulan sebagai uang bantuan pulsa internet smartphone

5. Pembayaran gaji kepada guru honorer

Di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) gaji guru honorer di bayar 50% selama sekolah diliburkan.

Di Indonesia untuk menutupi kekurangan guru yang kronis, dilakukan perekrutan guru honorer, tetapi saat ini sekolah diliburkan, sehingga guru honorer tidak ada pekerjaan. Selama sekolah diliburkan, guru honorer tidak menerima gaji dari sekolah, bagaimanapun juga ketika sekolah dibuka kembali nanti, guru honorer tetap diperlukan, untuk mempertahankan guru-guru honorer tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) membayar 50% gaji guru honorer selama sekolah diliburkan.

Penayangan program bertajuk ‘Belajar dari rumah’ melalui TV

program ‘Belajar dari rumah’ melalui TV adalah versi TV dari program belajar untuk smartphone, kontenya berupa : program animasi pendidikan untuk kelas dasar, film dengan nilai budaya tinggi, metode pendidikan untuk orang tua dan guru daerah, metode penghilang stress selama pandemi Covid-19, menghadapi penyebaran Covid-19 dan masih ada konten lainnya.

Program bertajuk ‘Belajar dari rumah’ menayangkan 4 film setiap minggu, di hari Sabtu dan Minggu ada program khusus dengan berbagai konten seperti program acara TV yang merangkum kehidupan dan kegiatan anak-anak di seluruh wilayah Indonesia, talkshow oleh para ahli dan profesor di berbagai bidang, dan diskusi tentang buku dan karya.

Selain itu, standar perilaku seperti ‘social distancing’ dan cara memakai masker untuk menghadapi pandemi Covid-19 semua generasi sering disiarkan selama program berlangsung. Jadwal siaran program diumumkan oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) selama siaran program TV, melalui Twitter dan melalui media lain.

Satu contoh jadwal siaran program ‘Belajar dari rumah’ lewat TVRI hari Jumat 12 Juni 2020

08:00-08:30 Jalan Sesama: Putri Punya Peliharaan【PAUD dan sederajat】*1
08:30-09:00 Dongeng Pagi Kak Aio: Cerita Si Kancil【SD Kelas 1-3 dan sederajat】*2
09:00-09:30 Gemar Matematika: FPB dan KPK 【SD Kelas 4-6 dan sederajat】
09:30-10:00 Interaksi Makhluk Hidup dan Lingkungan【SMP dan sederajat】
10:00-10:30 Tips Memilih Jurusan Sesuai Minat【SMA dan sederajat】
10:30-11:00 Keluarga Indonesia: Seri Pendidikan Orangtua 【Orangtua/Guru】
21:30-23:30 Film Indonesia

Note) *1:Sesami Streat versi Indonesia.
*2:Si kancil anak nakal, dongeng paling terkenal di Indonesia.


Evaluasi program ‘Belajar dari rumah’ melalui TV Indonesia

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) bersama dengan UNICEF melakukan survei untuk mengevaluasi siaran acara program ‘Belajar dari rumah’ melalui TV pada 1 bulan setelah acara program ditayangkan (diumumkan tgl 14 mei 2020)

Di dalam survei 99% siswa, guru, dan orang tua menjawab “Saya tahu” ketika ditanya “Apakah Anda tahu program ‘Belajar dari rumah’ melalui TV?”. Survei ini dibagi menjadi daerah perkotaan dan non-perkotaan, dengan 78,6% di daerah perkotaan menonton dan 52% di daerah non-perkotaan menonton.

Tingkat kepuasan terhadap konten program, dengan indek 10 poin sangat puas hasilnya : Semua siswa rata-rata 7,8 poin, Orang tua rata-tata 8,2 poin. Selain itu, kepuasan guru di perkotaan adalah 7,5 poin, dan kepuasan guru di non-perkotaan adalah 7,0 poin.

Lebih-lebih lagi mengenai program ‘Belajar dari rumah’ ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) sedang mengkaji untuk memperluas jangkauan siaran seperti dengan menggandeng stasiun TV daerah, menyiarkan lewat radio untuk rumah yang tidak punya TV dan upaya lainnya.

Komentar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui video conference berkomentar mengenai siaran program ‘Belajar dari Rumah’ melalui TV seperti di bawah ini :

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan “meskipun Kemendikbud sudah menjalin kerja sama dengan platform teknologi atau online learning milik swasta untuk memfasilitasi siswa belajar di rumah, Kemendikbud menyadari bahwa masih banyak sekolah di daerah yang tidak memiliki akses internet, kesulitan menggunakan platform teknologi, hingga keterbatasan dana untuk kuota internet atau pulsa”.

kemudian beliau menambahkan “Kemendikbud ingin memastikan bahwa dalam masa yang sangat sulit ini ada berbagai macam cara untuk mendapatkan pembelajaran dari rumah, salah satunya melalui media televisi. Karena itu kami meluncurkan program ‘Belajar dari rumah’. Diharapkan, program ‘Belajar dari rumah’ ini dapat memperluas akses layanan pendidikan bagi masyarakat di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang memiliki keterbatasan akses internet maupun keterbatasan ekonomi. TVRI merupakan saluran gratis yang bisa dinikmati masyarakat di berbagai daerah, dan bisa dimanfaatkan oleh siswa, guru, dan orang tua untuk membantu pembelajaran dari rumah selama pandemi Covid-19”

kemudian Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) juga menambahkan “Mungkin yang perlu saya tambahkan, ini semua dilakukan tanpa kita bertemu, semua dilakukan secara online. Bahan-bahan yang ada kita kumpulkan dengan cepat, lalu dijahit. Untuk minggu-minggu selanjutnya mungkin beberapa sudah bisa dimasukkan produksi baru. Kami berusaha bekerja cepat di tengah situasi ini,” ujarnya.

Ringkasan

Di Indonesia Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah diliburkan karena pandemi Covid-19 sama seperti di Jepang, Kami memperkenalkan upaya belajar online dan belajar melalui TV sebagai tindakan untuk menghilangkan kesenjangan pendidikan anak-anak dan siswa.

Di Indonesia ada sekitar 30 kali lebih banyak siswa yang belajar di sekolah daripada di Jepang, tetapi ada daerah jauh dari perkotaan di mana internet tidak bisa diakses, jadi di saat sekolah diliburkan menghadapi Covid-19 seperti ini tidak dapat mengikuti kelas online, sehingga menimbulkan ancaman kesenjangan pendidikan akan semakin meluas. .

Di situ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) melakukan berbagai macam dukungan seperti memerintahkan libur sekolah kepada semua sekolah di seluruh wilayah Indonesia, dan pada saat yang sama meluncurkan program ‘Belajar dari rumah’

Di dalam program ‘Belajar dari rumah’ bisa terlihat keseriusan negara Indonesia terhadap pendidikan anak-anak dan siswa seperti mengadakan siaran program belajar melalui TV, pembukaan situs online Belajar dari rumah, mengadakan aplikasi belajar untuk smartphone gratis, pemberian bantuan uang untuk pulsa internet smartphone, sampai kepada memberi bantuan gaji kepada guru honorer.

Terutama di dalam acara program ‘Belajar dari rumah’ melalui TV setiap hari menyiarkan program belajar untuk smartphone versi TV, acara anime pendidikan seperti Anime Jalan Sesama versi Indonesia, film dengan nilai budaya tinggi, acara untuk wali murid dan guru dll. Sabtu dan Minggu adalah program khusus dengan berbagai konten seperti program yang merangkum kehidupan dan kegiatan anak-anak di seluruh wilayah Indonesia, talkshow oleh para ahli dan profesor di berbagai bidang, dan diskusi tentang buku dan karya.

Melakukan evaluasi program ‘Belajar dari rumah’ melalui TV bersama dengan UNESCO, seperti yang Anda ketahui, telah mendapatkan nilai evaluasi yang tinggi bukan hanya dari non perkotaan saja tetapi juga dari anak-anak, siswa dan guru di perkotaan.

Kemudian Nadiem Makalim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Mendikbud) menyatakan dengan Jelas “Menyediakan aplikasi Belajar dari rumah gratis untuk siswa dengan lingkungan online yang baik”, dan “Memberikan program ‘Belajar dari rumah’ melalui TV gratis untuk siswa dengan lingkungan online yang buruk”.

Di Indonesia, di mana kondisi internet tidak lebih baik daripada di Jepang, tidak hanya terdapat berbagai program belajar online saja, tetapi program ‘Belajar dari rumah’ melalui siaran TV juga mendapatkan evaluasi yang tinggi, Belajar dari rumah dalam pandemi Covid-19 sudah menjadi kebutuhan bagi anak-anak dan siswa ,

Dengan diliburkannya sekolah karena pandemi Covid-19, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) memberikan berbagai dukungan kepada anak-anak, siswa dan guru dengan meluncurkan progam ‘Belajar dari rumah’ termasuk tayangan siaran melalui TV. Bisa dikatakan program-progam ini mengarah kepada pencegahan kesenjangan pendidikan di wilayah Indonesia.

Sekian, demikian laporan “Menghadapi pandemi Covid-19】Belajar Online dan Belajar melalui TV untuk mengatasi kesenjangan Pendidikan Indonesia”

Share this post

Artikel populer

berita
Daftar Peringkat 100 SMA Peraih Nilai Tertinggi UN 2019
berita
Daftar 34 Universitas terbaik di Indonesia yang memiliki Jurusan Bahasa Jepang dan Program Bahasa Jepang.
aktivitas
Berkunjung ke Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Indonesia (Kemendikbud),Sekolah Menengah Atas(SMA) Negeri dan ke Pameran “Study in Japan Fair” (November 2019)
pemerintah
Wawancara ke-2 dengan Bapak Pratama dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud)【Belajar di Jepang akan meningkat】
wawancara
Wawancara ke-15 dengan siswa Indonesia yang ingin Belajar di Jepang【Siswa SMA sedang persiapan Belajar di Jepang】
wawancara
Wawancara ke-14 dengan mahasiswa Indonesia yang sedang Belajar di Jepang【Graduate Schools the University of Tokyo, International Health】
wawancara
Wawancara ke-13 dengan mahasiswa Indonesia yang Belajar di Jepang 【Mahahasiswa Graduate Schoools The University of Tokyo】
wawancara
Wawancara ke-12 dengan mahasiswa Indonesia yang ingin Belajar di Jepang【Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) 】
wawancara
Wawancara ke-11 dengan mahasiswa Indonesia yang ingin Belajar di Jepang 【Mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM)】
wawancara
Wawancara ke-10 dengan Siswa Indonesia yang ingin Belajar di Jepang【Lulusan SMA sedang persiapan Belajar di Jepang】
wawancara
Wawancara ke-9 dengan mahasiswa Indonesia yang ingin Belajar di Jepang【Lulusan Universitas Indonesia (UI)】
wawancara
Wawancara ke-8 dengan siswi Indonesia yang ingin Belajar di Jepang 【Lulusan Universitas Kristen】
wawancara
Wawancara ke-7 dengan siswa Indonesia yang ingin Belajar di Jepang 【Lulusan Universitas】
wawancara
Wawancara ke-6 dengan siswi Indonesia yang ingin Belajar ke Jepang【Lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berencana Belajar di Jepang】
wawancara
Wawancara ke-5 dengan siswi Indonesia yang ingin Belajar di Jepang【siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kelas 2】

1 komentar untuk “【Menghadapi pandemi Covid-19】Belajar online dan belajar melalui TV untuk mengatasi kesenjangan Pendidikan Indonesia.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top